|
||||||||||||||||||
| SUARA MAHASISWA,Kita dan Rantai Hedonisme Pemerintahan |
|
|
| Wednesday, 07 December 2011 | |
|
Berbicara mengenai gaya hidup hedonis para pemimpin negeri ini,mungkin
pendapat saya akan sedikit berbeda dengan pendapat yang dimiliki oleh
mayoritas penduduk negeri ini.
Hidup akan selalu mengenai pilihan, sebagaimana banyak pemimpin negeri ini yang memilih hedonisme sebagai gaya hidup yang mereka anut. Saya menganggap hal itu sangatlah masuk akal. Mungkin akan banyak yang tidak setuju dengan pendapat saya.Tapi, saya punya argumentasi yang cukup kuat untuk hal ini. Entah apakah mereka kaya atau miskin,mayoritas penduduk Indonesia adalah hedonis untuk ukuran kondisi ekonomi mereka masing-masing. Tidak sedikit dari kepala keluarga yang miskin, lebih memilih untuk menghabiskan uang mereka demi beberapa bungkus rokok per hari ketimbang menyediakan susu dan makanan yang layak bagi anak istri mereka. Kalaupun mereka memiliki kondisi ekonomi yang sedikit lebih baik, mereka juga lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan yang tidak penting bagi anak-anak mereka, misalkan telepon seluler, ketimbang menyediakan pendidikan yang layak bagi mereka. B egitu seterusnya, gaya hidup hedonis ini terus menjalar hingga strata ekonomi yang tertinggi. Sistem pemilihan umum di negeri ini juga ladang segar bagi kaum hedonis.Kaum hedonis yang memiliki karakteristik “tidak berpikir panjang dalam mengeluarkan uang”,seolah menemukan celah lebar pada sistem pemilihan umum di negeri yang memiliki rumus dasar: siapa pun yang mengeluarkan uang paling banyak, maka dia punya potensi paling besar untuk menang. Maka,tidak jarang kita menjumpai manusia antah berantah, yang dengan kekuatan finansial beragam, tiba-tiba ngotot muncul dan mengeluarkan banyak uang menjelang periode pemilihan umum demi sebuah kursi politik. Hasil akhirnya sudah jelas.Mayoritas para pemimpin yang terpilih melalui sistem pemilihan umum yang busuk seperti ini,memiliki kualitas yang tidak kalah busuknya. Mengontrol gaya hidup para pemimpin negeri ini merupakan suatu hal yang penting untuk dilakukan karena sering kali ini berpengaruh besar terhadap kondisi neraca keuangan negara. Namun,menurut saya, mengoreksi gaya hidup diri sendiri juga tidak kalah penting, sudahkah gaya hidup yang kita anut sesuai dengan kondisi ekonomi kita serta lingkungan di mana kita tinggal. Harapannya,tentu saja,untuk memutus rantai hedonisme yang selama ini melingkar sehingga para pemimpin generasi mendatang tidak mengikuti jejak kotor para pendahulunya dan bersedia hidup secukupnya dan mampu menjadi teladan yang baik untuk rakyat yang dipimpinnya.● MUHAMMAD RISYAD TABATTALA Mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) |